BIAS LITERASI MEDIA DAN POLITIK PENCITRAAN

Media merupakan unsur pokok dalam proses komunikasi dan memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan. Media menjadi perantara komunikator untuk menyampaikan pesan kepada komunikan. Media pada dasarnya adalah segala sesuatu yang merupakan saluran dengan mana seseorang menyatakan gagasan, isi jiwa atau kesadarannya. Atau dengan kata lain, media adalah alat untuk mewujudkan gagasan manusia (dalam Arifin, 2010: 116).

Tahun 2014 merupakan tahun politik di Tanah Air. Kini media sosial telah menjadi bagian dalam lini kehidupan manusia, termasuk dalam ranah politik. Kehadirannya menjadi alat yang efektif untuk sarana komunikasi, mempromosikan diri, ataupun termasuk sosialisasi. Dunia politik juga ditandai dengan keterlibatan media dalam hiruk-pikuk berpolitik. Media dalam hal ini diartikan secara luas, yaitu segala sarana yang terkait dengan penyampaian pesan, baik yang bersifat riil maupun simbolik, dari institusi politik kepada masyarakat yang lebih luas. Media dalam hal ini dapat berupa TV, radio, majalah, dan koran. Digunakannya media massa sebagai instrumen untuk mengkomunikasikan ide, pesan, dan program kerja politik adalah karena kenyataan bahwa media dapat dipakai untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat luas dengan biaya orang yang relatif sangat murah.

Keefektifan media massa dalam menyampaikan pesan politik telah menjadikannya sebagai ajang baru pertempuran politik. Dengan dicanangkannya deklarasi bahwa abad ini adalah Abad Informasi membuat siapa pun yang memiliki akses kepada media massa memiliki kemampuan untuk mengai’ahkan dan membentuk opini publik sesuai dengan yang diharapkannya. Perang media merupakan suatu keniscayaan dengan adanya kemajuan teknologi. Konsekuensi logisnya, dunia politik tidak dapat dipisahkan dari media massa. Persaingan pun muncul untuk mencari aliansi. dengan suatu media massa guna menjamin lancarnya pesan politik yang ingin disampaikan.

Kemampuan untuk membentuk opini publik ini membuat media massa memiliki kekuasaan politik. Paling tidak, media memiliki kekuasaan untuk membawa pesan politik dan membentuk opini publik. Kemampuan ini dapat dijadikan sumber bagi media massa untuk proses tawar-menawar dengan institusi politik. Kesulitan untuk bernegosiasi dengan media massa seringkali terjadi karena ideologi politik tertentu memiliki media sendiri, tidak jarang juga media massa mengambil sikap independen dan menjadi kekuatan politik penyeimbang dari kekuatan politik.

Dalam hal ini, media massa menjadi kekuatan kritis dan alternatif. Karena itu, tidak mengherankan kalau kemunculan media massa di Indonesia juga tidak dapat dijelaskan oleh rasionalitas ekonomis saja. Hal ini juga terkait erat dengan keinginan untuk berkuasa. Ide, gagasan, dan isu politik akan dapat dengan mudah ditransfer dan dikomunikasikan melalui media massa. Hal ini membuat kekuasaan politik tidak hanya ada di tangan partai politik, tetapi juga siapa pun yang memiliki kemampuan untuk memengaruhi kebijakan publik.

               

PEMBAHASAN


Seiring berjalannya waktu, media massa (mass media) memperlihatkan pertumbuhan yang sangat signifikan. Geliat ini di satu sisi merupakan kemajuan dan sangat positif bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Media membantu masyarakat dalam mengakses informasi lebih cepat. Ini penting, terutama di era keterbukaan seperti sekarang. Akan tetapi, media juga punya potensi yang merugikan. Realitasnya, media saat kadang bias dalam penyampaian berita. Keadaan ini seringkali memicu kontroversi di masyarakat. Dan tidak bisa dipungkiri bahwa ada kepentingan di balik pemberitaan.

Bias di balik pemberitaan terjadi karena media tidak sekedar memberitakan, akan tetapi ada pesan tertentu yang hendak disampaikan. Hal tersebut bisa dijelaskan melalui Agenda Setting Theory. Maxwell McCombsdan Donald L Shaw Sperti yang dikutip Nurudin dalam tulisannya  menemukan bahwa ada hubungan yang tinggi antara penekanan berita dan bagaimana berita itu dinilai tingkatannya oleh pemilih. Meningkatknya nilai penting bagi berita pada media massa menyebabkan meningkatnya nilai penting topik tersebut bagi khalayak

Lanjut Nurudin, media (khususnya media berita) tidak selalu berhasil memberitahu apa yang harus dipikirkan orang, tetapi media tersebut benar-benar berhasil memberitahu seseorang apa yang harus dipikirkannya. Akibatnya, media selalu mengarahkan pada masyarakat apa yang harus dilakukannya. Menurut asumsi teori di atas, media punya kemampuan untuk menyeleksi dan mengarahkan perhatian masyarakat pada gagasan atau peristiwa tertentu. Media menentukan apa yang penting dan apa yang tidak penting.

Sebagai persuasif komunikasi, media massa sering kali membuat dan mengukuhkan nilai-nilai yang kita yakini sebelumnya. Kaitannya dengan pembahasan seseorang yang tidak memihak pada suatu partai politik akan berubah aspirasi politiknya karena terpengaruh pemberitaan di media massa. Media massa juga mampu menggerakkan seseorang untuk berbuat sesuatu hal atau tidak berbuat.

Kepemilikan media massa saat ini memiliki pengaruh yang kuat terhadap tayangan media massa tersebut. Bagaimana kecenderungan tayangan televisi lebih mencerminkan sosok pemilik dari perusahaan media. Apalagi ketika pemilik media tersebut berkecimpungan di ranah politik, maka bias dilihat bagaimana tayangan yang disajikan ke masyarakat cenderung melakukan pencitraan partai politiknya. Ruang-ruang publik yang termasuk di dalam media massa, menjadi ruang ekspresi yang tak terlepas dari berbagai manuver, taktik, dan strategi politik yang digelar oleh elite politik dalam suksesi pilkada pada Juli 2018 nanti. Teknik “pemasaran politik” dengan mengemas “citra” tentang sosok calon kepala daerah dalam praktek politik citraan (politics of image), menempatkan media massa sebagai pemegang kendali utama pemberitaan, karena salah satu kekuatan media yang sangat diperhitungkan adalah kekuatan menciptakan opini publik.

 

Media Massa  dan Pembentukan Opini Publik dalam Dunia Politik

 

Politik sering menempatkan media sebagai medan perang sekaligus panglima. Hal ini dimungkinkan ketika media memiliki kekuatan penuh untuk memutuskan informasi mana yang seharusnya diketahui atau tidak diketahui publik. Kondisi ini menempatkan media sebagai pembentuk citra baru bagi individu atau lembaga. Hal ini menjadikan berita terus mengalami redefinisi sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

Fakta juga kini telah berubah menjadi komoditas yang mudah dikemas, didaur ulang dan dimaknai kembali. Maka wajar jika hampir seluruh media memberitakan hal yang sama dan dari sumber berita yang sama. Seperti halnya pemberitaan masalah pilkada langsung, hampir setiap media cetak maupun elektronik memberikan porsi ruang dan waktu untuk mengulas pilkada langsung.

Dalam konteks komunikasi politik, peran media dalam mengulas pilkada langsung tak sebatas hanya pada masa kampanye saja. Boleh dikatakan konstruksi citra politik justru dibangun terus-menerus mulai pendaftaran calon kepala daerah ke dalam berbagai ruang publik yang disediakan media massa. Citra dan stereotip secara sadar atau tidak merupakan dua hal yang terus diusung media. Efek dari komunikasi politik disengaja atau tidak disengaja telah melahirkan keberpihakan media.

Ruang-ruang publik yang termasuk di dalam media massa, menjadi ruang ekspresi yang tak terlepas dari berbagai manuver, taktik, dan strategi politik yang digelar oleh elite politik dalam teknik “pemasaran politik” dengan mengemas “citra” tentang sosok calon kepala daerah dalam praktek politik citraan (politics of image), menempatkan media massa sebagai pemegang kendali utama pemberitaan, karena salah satu kekuatan media yang sangat diperhitungkan adalah kekuatan menciptakan opini publik.

Media massa, termasuk berita surat kabar, merupakan konstruki kultural yang dihasilkan ideologi, karena sebagai produk media massa, berita surat kabar menggunakan kerangka tertentu untuk memahami realitas sosial. Lewat narasinya, surat kabar menawarkan definisi-definisi tertentu mengenai kehidupan manusia: siapa pahlawan, siapa penjahat; apa yang baik dan apa yang buruk bagi rakyat; apa yang layak dan apa yang tidak layak untuk dilakukan oleh seorang pemimpin; tindakan apa yang disebut perjuangan (demi membela kebenaran dan keadilan); isu apa yang relevan dan tidak (Eriyanto). Narasi yang dibangun dan dipoles sedemikian rupa dengan bahasa, tidak sekedar untuk melukiskan suatu fenomena atau lingkungan, tetapi juga dapat mempengaruhi cara melihat lingkungan kita. Implikasinya, bahasa juga dapat digunakan untuk memberikan akses tertentu terhadap suatu peristiwa atau tindakan, misalnya dengan menekankan, mempertajam, memperlembut, mengagungkan, melecehkan, membelokkan, atau mengaburkan peristiwa atau tindakan tersebut.

Media Massa memiliki power luar biasa dalam dunia modern mengingat perannya dalam mempengaruhi opini dan kebijakan publik melalui informasi,reportase, ulasan dan investigasi yang disajikan. Tak heran para pemangku kekuasaan berupaya berinteraksi secara sejajar, kalau tidak dikatakan tergantung, pada pihak media. Kekuatan media massa untuk mempengaruhi khalayaknya sangat berdampak keras dan dapat menjadikan sebuah partai politik maupun aktor politik yang ada didalamnya mempunyai citra negatif atau positif.

Jika kita berbicara mengenai strategi pencitraan, tak dapat dilepaskan dari peran media massa dalam kapasitasnya sebagai media (wadah) untuk memberitakan kepada publik serta memberi citra dari aktivitas para aktor politik yang diberitakan dan menjadi konsumsi media massa. Disini peranan “Framing” maupun “Agenda Setting” menjadi penting, karena agenda media (dalam hal ini media memilih berita-berita yang akan menjadi headline dalam pemberitaannya) merupakan agenda publik, artinya adalah publik disodorkan headline berita yang memang telah diagendakan oleh media untuk menjadi berita utama (headline). Media massa mempunyai peranan penting dalam mensosialisasikan nilai-nilai tertentu kepada masyarakat.  Hal tersebut tampak dari fungsi yang dijalankan oleh media massa yaitu sebagai alat untuk mengawasi lingkungan (surveillance of the environment), menghubungkan bagian-bagian dalam masyarakat (correlation of the parts of society), mengirimkan warisan sosial (transmission of the social heritage), dan memberikan hiburan (entertainment) – (Littlejohn, 1999).

Banyak aspek dari media massa yang membuatnya penting dalam kehidupan politik,

-Pertama adalah daya jangkaunya (coverage) yang sangat luas dalam menyebar-luaskan informasi politik yang mampu melewati batas wilayah (geografis), kelompok umur, jenis kelamin dan sosial-ekonomi-status (demografis) dan perbedaan paham dan orientasi (psikografis).  Dengan begitu sebuah masalah politik yang dimediasikan dapat menjadi perhatian bersama di berbagai tempat dan kalangan.

-Kedua, kemampuan dari media massa yang dapat melipat-gandakan pesan (multiplier of message) yang sangat luar biasa. Suatu peristiwa politik bisa dilipat-gandakan pemberitaannya sesuai dengan kebutuhannya melalui jumlah eksemplar surat kabar, tabloid, dan majalah yang tercetak, dan juga bisa diulang-ulang penyiarannya di media massa elektronik sesuai dengan kebutuhan.  Alhasil pelipat-gandaan ini menimbulkan dampak yang sangat besar di tengah khalayak.

-Ketiga, setiap media massa mempunyai kemampuan untuk bisa mewacanakan sebuah peristiwa politik  sesuai dengan pandangan masing-masing media yang memberitakan.  Kebijakan redaksional dalam menentukan agenda setting yang dimilikinya menentukan penampilan dari isi sebuah peristiwa politik yang diberitakan.  Justru karena kemampuan inilah maka media massa  banyak diincar oleh pihak-pihak yang ingin menggunakannya untuk kepentingan politik tertentu dan sebaliknya, akan dijauhi oleh pihak yang tak menyukainya.

-Keempat, tentu saja dengan fungsi agenda setting yang dimilikinya, media massa memiliki kesempatan yang sangat luas (bahkan hampir tanpa batas) untuk memberitakan sebuah peristiwa politik.  Sesuai dengan kebijakannya masing-masing, setiap peristiwa politik dapat disiarkan  atau tidak disiarkan.  Yang jelas belum tentu berita politik yang menjadi agenda media merupakan agenda publik juga.

-Kelima, pemberitaan peristiwa politik oleh suatu media massa lazimnya berkaitan dengan media massa lainnya sehingga membentuk rantai informasi (media as links in others chains).        Hal ini akan menambah kekuatan tersendiri pada penyebaran informasi, khususnya informasi politik dan dampaknya terhadap publik.  Dengan adanya aspek inilah maka peranan media dalam membentuk opini publik akan semakin kuat.

 

Media Sosial dalam Dunia Politik

 

Pemanfaatan media yang tepat juga akan membantu meningkatkan branding parpol. Perkembangan media yang cukup pesat seharusnya bisa dimanfaatkan dengan baik dalam melakukan praktik politik pencitraan. Maraknya pengunaan internet seharusnya bisa dilirik dalam praktik politik pencitraan karena sifatnya yang sangat cepat dalam menyebarkan informasi dan biaya yang dikeluarkan jauh lebih murah dibandingkan media televisi.

Para tokoh politik dan parpol ternyata sudah mulai menyadari akan pentingnya media sosial untuk mendekatkan diri ke publik. Contoh tokoh politik yang sukses mendekatkan dirinya ke publik melalui media sosial adalah Obama dan presiden Joko Widodo. Tidak hanya di media sosial Facebook, dia juga berkomunikasi ke publiknya melalui Twitter maupun Instagram. Pengunaan media sosial ini sangat efektif karena media sosial bisa mengejar atensi publik secara luas. Tidak hanya anak muda yang menjadi target publiknya, tetapi masyarakat secara luas juga mengakses media sosial tersebut dikarenakan kemudahan akses internet dan lahirnya gadget yang memudahkan kita untuk online.

Kalau dibandingkan dengan media massa, media social juga sangat berpengaruh dalam politik pencitraan , salah satu  media sosial yang banyak dipakai oleh tokoh politik untuk mendekatkan diri ke publiknya adalah Twitter dan Instagram. Twitter dan Instagram dipandang sangat efektif dalam mendekatkan tokoh politik dengan publiknya, khususnya anak muda. Dari Twitter dan Instagramnya tersebut, bisa dilihat seberapa banyak publik yang menaruh perhatian terhadap tokoh tersebut dari seberapa banyak follower yang dimiliki tokoh tersebut. Semakin banyak jumlah follower-nya, artinya semakin banyak publik yang menaruh perhatian terhadap tokoh tersebut dan semakin banyak yang melakukan mention tokoh tersebut, artinya semakin banyak pula publik yang ingin berkomunikasi dengan tokoh tersebut. Tweet maupun seluruh aktivitas yang dilakukan melalui gambar yang ditulis, diposting tokoh politik mampu menunjukkan opininya terkait isu-isu politik sehingga follower-nya bisa mengetahui bagaimana stand politiknya terhadap suatu isu atau keadaan. Dari sinilah akan terjadi komunikasi dua arah antara tokoh politik tersebut dengan para follower-nya. Jadi, pemanfaatan Twitter dan Instagram sebagai media dalam praktik politik pencitraan merupakan salah satu solusi cerdas dan murah sehingga dapat menghemat anggaran parpol.

Market media sosial adalah pemilih pemula yang usianya 17 hingga 30 tahun. Media sosial bukan lagi sekadar sarana bagi netizen mempererat pertemanan melalui percakapan, namun sudah membahas tentang isu-isu politik. Tak pelak, pada tahun politik sekarang ini, media sosial dibanjiri dengan akun-akun para pegiat politik. Melalui media sosial, warga internet (netizen) bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan memproduksi konten. Media sosial menggunakan teknologi berbasis web yang menjadikan suatu bentuk komunikasi menjadi lebih interaktif. Media sosial terbukti berhasil merebut hati netizen dalam memenuhi kebutuhannya dalam mendapatkan informasi dan berkomunikasi.

Penggunaan media sosial bukan lagi sekadar sarana untuk mempererat pertemanan melalui percakapan, namun sudah membahas tentang isu-isu politik, kebijakan pemerintah, perilaku para public figure yang positif maupun yang negatif. Sama seperti media konvesional, media sosial mampu mengubah pandangan dan pendapat masyarakat  tentang  sesuatu  hal. Dari   yang   tidak   simpati bisa menjadi simpati, dari benci bisa berubah menjadi sayang, sebab berbagai informasi masuk ke media sosial, dari informasi buruk dan baik tertuang di dalamnya.

Netizen melalui media sosial dapat berinteraksi atau berkomunikasi dua arah. Tidak seperti iklan di televisi atau media cetak, tidak terjadi komunikasi dan interaksi dua arah. “Melalui media sosial, para politisi bisa mengetahui apa yang diinginkan masyarakat. Melalui media sosial, para politisi pun bisa mengetahui apa yang sedang terjadi di tengah kehidupan masyarakat. Begitu pula sebaliknya, masyarakat juga bisa tahu apa yang terjadi pada politisi, termasuk masa lalunya yang kurang baik.

Dari sisi lain, media sosial mampu memunculkan sosok yang belum dikenal menjadi terkenal. Begitu pula sebaliknya, madia sosial sanggup menjatuhkan orang baik menjadi tidak baik di mata publik. Biasanya, setelah heboh di media sosial akan muncul media massa konvensional, seperti televisi, koran, dan majalah. Media massa akan melengkapi perbincangan di media sosial menjadi berita lebih dalam. Setelah menjadi berita di media konvensional, netizen memberikan umpan balik hingga berita menjadi lebih heboh dan semakin panas. Itulah realitas sosial yang terjadi media sosial. Sekarang interaksi dunia maya dan dunia nyata seolah tidak ada sekat lagi.

Wajah media memang ibarat pedang bermata dua. Disatu sisi media berupaya mendekati obyektifitas pemberitaan, namun disatu sisi yang lain media juga tak luput dari keberpihakan dan ketidak berimbangan yang dapat di jadikan celah bagi tim sukses untuk terus memasukkan pesan dan citra politik sosok kepala daerah. Celah ini bias dimanfaatkan bagi elit politik maupun tim sukses untuk menjadikan media sebagai sarana pemasaran missal. Tak heran bila beberapa pendapat mengatakan bahwa komunikasi politik di era informasi telah menjelma menjadi ajang pemasaran missal yang di dalamnya tanda dan citra memainkan peran sentral.

Jika kekuatan media digunakan untuk melakukan petcitraan bisa dengan mudah memanipulasi karena faktor dibayar. yang seharusnya berisi info info berita namun harus dipenuhi oleh visi dan misi yang tidak masuk akal demi kepentingan tertentu, kemudian berdampak untuk masyarakat sulitnya lagi menilai kredibilatas seseorang karena banyak pencitraan. ditahun menjelang pesta demokrasi iklan dan visi mulai menumpuk serta opini tentang politik pun penuh halaman halaman media, mulai dari media cetak hingga media elektronik karena media merupakan salah satu jalan yang ampuh melakukan dan menyebar luaskan sesuatu apakah itu benar atau salah. kerasnya kepentingan politik merupakan dampak terburuk untuk melakukan pendidikan politik yang seharusnya politik itu untuk mendongkrak suatu sistem ketatanan pemerintah agar lebih baik.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*